Timnas Aljazair dan Austria dianggap “Main Sabun” dalam pertandingan terakhir grup J Piala Dunia 2026 yang berkesudahan 3 – 3, dan membuat kedua negara lolos ke babak 32 besar. Hasil imbang ini menutup peluang Iran (peringkat 3 Grup G) untuk melaju ke babak 32 besar , sebagai salah satu dari delapan negara peringkat ketiga terbaik.
Tudingan adanya main mata ini muncul karena kericuhan yang terjadi di bench Aljazair dan Austria, yang diduga terjadi pasca gol ketiga Aljazair yang dicetak oleh Riyad Mahrez menit 90+3, yang mengubah kedudukan menjadi 3 – 2 untuk keunggulan Aljazair. Jika bertahan, hasil ini akan membuat Austria gagal lolos ke babak selanjutnya.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kericuhan ini di antaranya melibatkan striker Timnas Austria, Marko Arnautovic, serta para pemain cadangan Timnas Aljazair. Kecurigaan netizen dipicu adanya gestur yang seakan mengatakan “Pertandingan imbang, tenanglah”, yang ditunjukkan oleh pemain Aljazair Houssem Aouar kepada Marko Arnautovic.
Media Inggris, BBC, dalam artikel mereka menyebutkan bahwa teori konspirasi adanya main mata antara Timnas Aljazair melawan Austria, dihembuskan oleh para suporter Iran yang kecewa karena negaranya batal tampil di babak 32 besar.
APAKAH ALJAZAIR & AUSTRIA BERKONSPIRASI ?
Pertandingan sepakbola dengan hasil yang telah diatur atau biasa dikenal dengan istilah “match fixing”, seringkali memperlihatkan berbagai keanehan, seperti permainan kedua tim yang terlihat ala kadarnya, proses gol yang terlalu mudah, bahkan munculnya keputusan wasit yang mengundang pertanyaan.
Dalam pertandingan Aljazair melawan Austria, hal ini tidak terlihat sama sekali. Bahkan setiap proses gol, terutama proses gol ketiga Austria yang dicetak Sasa Kalajdzic menit 90+6, dihasilkan melalui kombinasi umpan yang cukup rumit. Gol diawali dengan umpan lambung ke arah tiang jauh Aljazair, bola berhasil disambut dengan sundulan Michael Gregoritsch yang mengarahkannya ke tengah kotak penalti. Sasa Kalajdzic yang berdiri bebas terlepas dari kawalan bek Aljazair, meneruskan bola ke arah kiri gawang Aljazair. Oussama Benbot, penjaga gawang Aljazair, yang terlanjur bergerak ke arah tengah gawang, tak mampu bereaksi cepat untuk menghentikan laju bola.
Proses gol pertama Austria yang dicetak oleh Marko Arnautovic pada menit 28, mungkin bisa dicurigai. Tapi jika lihat berulang – ulang, gol ini lebih banyak disebabkan kelengahan bek Aljazair, dan keraguan Oussama Benbot untuk berduel satu lawan satu dengan Arnautovic. Kiper Aljazair ini bahkan diingatkan oleh salah satu centreback Aljazair, Ramy Bensebaini, agar maju dan mengadang Arnautovic.
Proses empat gol lainnya juga tidak menimbulkan kecurigaan bahwa setiap negara “mempersilakan” gawang mereka untuk dijebol. Oleh sebab itu, tudingan konspirasi untuk menjatuhkan Iran pun bisa dianggap gagal, sebab tak ada gol mudah dalam pertandingan ini.
Reporter : Riksan
